Pain in the coffe


Hai readerss..
Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang kopi.
Berdasarkan penelitian kopi adalah minuman yang mempunyai banyak manfaat, seperti menajamkan memori, meningkatkan metabolisme tubuh, bahkan mencegah terjadinya depresi. Bagi pecintanya kopi selalu bisa dinikmati kapanpun, dimanapun, dalam suasana dan keadaan apapun. Pagi atau sore, panas atau dingin, bahagia atau sedih. Namun bagaimanapun, kopi tetaplah kopi yang memiliki rasa pahit yang kadar pekatnya bisa di pertimbangkan masing-masing penikmatnya.
 Saya tahu sebagian rasa dari jenis-jenis kopi seperti cappucino, mocca, latte, espreso, americano, frappe, dan masih banyak yang lain. Karna sering memesan dan menikmatinya ketika duduk di sebuah kedai kopi. Walaupun awalnya saya bukan pecinta kopi sejati. 
Oke, saya tidak akan membahas tentang jenis-jenis kopi, karna kali ini saya akan membagikan sedikit cerita tentang rasa sakit yang berkaitan bersama kopi.
Karna tidak sedikit orang yang mengaitkan perasaan sakit dengan rasa pahit.

Dulu saya hanya mengonsumsi kopi pada saat-saat tertentu. Tetapi kebiasaan tersebut berubah ketika beberapa bulan lalu setelah saya berbincang dengan salah satu teman. Sedikit yang saya tahu, dia pecinta kopi sejati. Long black coffe, akan dia habiskan bergelas-gelas dalam waktu semalaman. Sedangkan saat itu saya menekankan bahwa kopi hanya suatu objek kebutuhan. Tidak lebih. 

Seseorang pernah berkata kepada saya, katanya; "pahitnya kopi hanya sepertujuh dari bagian pahit dalam hidup kita." 
 Dan di satu percakapan dia menantang saya untuk menikmati kopi bubuk hitam murni. Tanpa diseduh bersama air, tanpa tambahan gula. Karna menurutnya, disitulah letak kenikmatan kopi akan benar terasa. Dan dia bersikeras bahwa kopi bukan hanya suatu kebutuhan semata. 
Perlu diketahui, selain long black coffe dia adalah jenis manusia unik, penikmat kopi bubuk. 
Kesan pertama yng saya rasakan pada saat memasukan beberapa bubuk kopi kedalam lidah adalah pahit yang menyengat dan sedikit rasa hambar. Baiklah saya pikir saat itu saya belum menemukan maksud yang dikatakan teman saya tentang arti kenikmatan tersebut. 
Hingga di suatu sore bersama hujan yang semakin menderas, saya mengonsumsi kopi bubuk tersebut bersama hati yang sedang patah. Ajaibnya, pada sendok pertama tidak saya temukan rasa hambar, lalu di sendok kedua, ketiga dan selanjutnya saya mulai akrab dengan rasanya. Saya mulai menyukai pahitnya yang terasa murni. 
Seperti melebur bersama luka-luka, tenggelam di rasa sakit dan tidak saya temukan sesak di dalam hati. 
Malam-malam kelanjutan patah hati saya di temani bubuk kopi hitam. Bahkan setelah patah hati tersembuhkan, saya masih dekat dengan bubuk kopi hitam. Mungkin saya akan menyimpulkan, bahwa saya juga skrg sudah menjadi seorang penyuka kopi bubuk, terlihat ekstentrik memang. Namun, yang saya pelajari kopi bubuk mengajarkan saya untuk menyembuhkan luka...

Bagi para penikmat tulisan saya, ini hanya sekedar tulisan yang sengaja saya publikasikan. Namun jika anda penasaran, bisa mencoba sperti yang saya lakukan. Mengonsumsi sejentik kopi bubuk disaat hati anda sedang patah... 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

urgensi konstipasi